Selasa, 27 Desember 2011

Jika Si Bodoh Melempar Tulang

mungkin sebaiknya aku hengkang dari sini
dari arah dimana kau tembuskan panah itu dalam kerongkonganku
tidak penting bagimu, aku tau
karena sejak awal obsesimu agar aku mati
dalam lingkup fatamorgana

tapi sesungguhnya tempatmupun takkan sanggup menggapaiku
hanya bergelung bagai udang
bertarung dengan ego
betapa bodohnya
berpikir bahwa tangan bodohmu mampu mencabut jantungku hingga ke akarnya

berpikirlah logis
aku bukan anak kecil yang bisa diam hanya dengan satu lolipop
bukan anjing yang kan berhenti menggigit saat kau lempari tulang
dan bukan penyedia layanan tidur yang bisa kau suap sesukamu

taukah kau, bodoh?
Disini bukan tempat dimana kau bisa mendapatkan kebenaran
Tapi tempat dimana kau bisa membuat orang yeng berpikir salah itu benar








Sabtu, 24 Desember 2011

Bintang Biduk ke Delapan

langit belum pernah seterang ini sebelumnya
seolah bola bisbol mengambang terang
hanyut diterpa alunan musikmu
bertengger seperti merpati dalam rona kelam
berevolusi secara simetris padaku...
pada duniamu...

pada segala emosi balok yang berdentang lirih
melesat secepat anak panah mencari arah
bergerak serak mengintari keduabelas romawi emas
seperti magnet yang tak mampu memilih takdir dan nasib

tapi aku mampu menemukan bintang biduk kedelapan ditengah kegelapan...
menemukanmu...

Dia Bukan Aku

Kabut begitu tebal
Jalanan panjang berliku
Sepi..

Sejenak terang lewat perlahan
Sejenak riuh menjelang
Sejenak damai tenggelam

Dalam sunyi ini nafas seorang perempuan dipertanyakan

“dia bukan aku”, teriaknya tepat dibawah tripurnama
Anggunnya malam tk sbanding dg anggun langkahnya
Gemulai kata pengacara tak sebanding dengan gemulai bicaranya
Bahkan teduh nuansa politik tak seindah keteduhan hatinya

Namun sekali lagi sosoknya membentak “dia bukan aku!”

Tawanya bisa pecah berderai
Bisa surut seketika oleh musim layangan
Tapi seperti apa dera yang di pendamnya
Yang tk pernah dibagi dan dilukiskannya
Tetap akan tertanam dalam tubuh epilognya
Sampai dia mampu berteriak “inilah aku..”

Aku Pujangga

takkan kau temukanQ dlm semak belukar dunia maya
yg btasx telah terhapus oleh garis halus protonema
teralunkan paruh bagan sinar alfa
seperti bersembunyi,
namun daya ionisasix mampu menembus luka2 biru membeku

langkahQ sekerap hamburan cahaya
perlahan,
jejak tertinggal terpolarisasi,
berbaur dengan derak defek massa
jatuh tepat di belakang lensa objektif dg akomodasi maksimal

aQ tdk bersama dg mereka
punggawa2 laut selatan
abdi nyi roro kidul yang abadi
walau mudah bagiQ menyelip diantara bisa arachnida mematikan, tapi aQ juga manusia
berhak mengukur dlamx derak rasa
berhak mnjernihkan nafas dg koloid pelindung
berhak
berhak lukiskanmu dlm gelembung2 elektroda

tempatQ sngat jauh
karena aQ larutan tepat jenuh
yg mencoba mngendap dlm pecahan gelas kimia
bereaksi dg basa membentuk NaOH
mengeringkan angin nakal yg lewat tanpa permisi
dan meninggalkan berkas di permukaan kulit

aQ tk ingin pecah berderai dalam satu waktu
tersingkirkan oleh relativitas tak di kenal
ataupun bergumul dg kisah paradoks anak kembar
aQ enggan mati berdiri
mengurus bioteknology masa kini,
yg tak mampu memperbaiki kerusakan sel otakQ oleh cinta
aQ tak ingin tersepuh bersama logam berat,
mengalami pmbakaran sempurna dan menjadi uap air

cari aQ dlm sendratari
yg mengisahkan prempuan berhati berbulu
tngah mencibir ramayana
menusuk nadi rahwana
meliuk dlm bidang tubuh arjuna
aQ brada di sana brsama sebuah nama
aQ di sana krna aQ bernyawa
aQ pujangga, jika dan hanya jika kau mencariQ

its crime

bukan bgtu crax membca hati
yg tergeletak bersama vas porselen
diatas meja kehakiman
brdebu karena ego
tanpa asbak, tnpa puntung rokok

bukan dg koran bekas itu
tuk bersihkan noda di piringan hati
berminyak krna lemak jenuh
dari mkanan kaleng basi
yg q sebut it cinta

bukan akibat jalan darat yg retak
tp tak ada transportasi kilat mnuju rumah hati
d.jaga oleh mlaikat2 tk trlihat
dan hanya bisa d.buka jika
punya nyali untk mmbnuh harga diri

bukan dg mengiris nadi
tuk menyebrangi rmbut trbelah 7 d.atas api
hanya prlu mencuri start
dn mengtakan pdax
"aQlah kriminal yg mencintamu"

Rabu, 21 Desember 2011

Segala yang dimulai dari titik tertinggi, adalah apa yang akan terpelanting ke barisan akhir
Entah tentang hidup konyol penuh lawakan, atau hidup tenang penuh kewibawaan
Semuanya, tanpa terkecuali akan kembali dalam satu banjar pengertian

Meski aromaku adalah aroma penghilang rasa sakit, bukan berarti langkahku tak gontai
Sesekali nafasku tersengal dalam sepi, sepintas waktu hatiku terberai menjadi abu
Terbang, menari di atas jemari layaknya serpihan kremasi
Tapi toh aku hidup
Hidup dengan nada nada hangat yang melingkar seindah komidi putar

Meski namaku adalah apa yang tersembunyi dalam hitungan kalkulus, bukan berarti nilaiku pasti
Terkadang emosiku membaur dengan bahasa pemrograman, terkadang senyumanku menghilang dalam rautan pensil sang arsitek
Mengabur, menghalau hentakan kaki pelari maraton
Tapi toh namaku terukir
Terukir dalam sejarah kedua acungan jempolmu

Aku yang berbicara di depan podium
Mengajukan orasi tentang makanan basi yang telah kadaluarsa bernama cinta
Tentang secangkir moccachinomint hangat yang di aduk tanpa pemais buatan
Menyerbu panel otak yang menghirupnya
Menyerbu otakmu

Dan malam ini berakhir
Padahal belum sedetikpun aku terbangun, apalagi tertidur
Efisiensi mataku terjaga karena duniaku tengah terlelap
Duniaku, setitik kapas putih yang baru kemarin lepas dari pohonnya
Duniaku, yang tak pernah berhenti ucapkan sepatah jejak dalam bisu:
 “kau mampu berdiri, saat semua orang di sekitarmu berkata ‘aku lelah’”