Kabut begitu tebal
Jalanan panjang berliku
Sepi..
Sejenak terang lewat perlahan
Sejenak riuh menjelang
Sejenak damai tenggelam
Dalam sunyi ini nafas seorang perempuan dipertanyakan
“dia bukan aku”, teriaknya tepat dibawah tripurnama
Anggunnya malam tk sbanding dg anggun langkahnya
Gemulai kata pengacara tak sebanding dengan gemulai bicaranya
Bahkan teduh nuansa politik tak seindah keteduhan hatinya
Namun sekali lagi sosoknya membentak “dia bukan aku!”
Tawanya bisa pecah berderai
Bisa surut seketika oleh musim layangan
Tapi seperti apa dera yang di pendamnya
Yang tk pernah dibagi dan dilukiskannya
Tetap akan tertanam dalam tubuh epilognya
Sampai dia mampu berteriak “inilah aku..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar