Segala yang dimulai dari titik tertinggi, adalah apa yang akan terpelanting ke barisan akhir
Entah tentang hidup konyol penuh lawakan, atau hidup tenang penuh kewibawaan
Semuanya, tanpa terkecuali akan kembali dalam satu banjar pengertian
Meski aromaku adalah aroma penghilang rasa sakit, bukan berarti langkahku tak gontai
Sesekali nafasku tersengal dalam sepi, sepintas waktu hatiku terberai menjadi abu
Terbang, menari di atas jemari layaknya serpihan kremasi
Tapi toh aku hidup
Hidup dengan nada nada hangat yang melingkar seindah komidi putar
Meski namaku adalah apa yang tersembunyi dalam hitungan kalkulus, bukan berarti nilaiku pasti
Terkadang emosiku membaur dengan bahasa pemrograman, terkadang senyumanku menghilang dalam rautan pensil sang arsitek
Mengabur, menghalau hentakan kaki pelari maraton
Tapi toh namaku terukir
Terukir dalam sejarah kedua acungan jempolmu
Aku yang berbicara di depan podium
Mengajukan orasi tentang makanan basi yang telah kadaluarsa bernama cinta
Tentang secangkir moccachinomint hangat yang di aduk tanpa pemais buatan
Menyerbu panel otak yang menghirupnya
Menyerbu otakmu
Dan malam ini berakhir
Padahal belum sedetikpun aku terbangun, apalagi tertidur
Efisiensi mataku terjaga karena duniaku tengah terlelap
Duniaku, setitik kapas putih yang baru kemarin lepas dari pohonnya
Duniaku, yang tak pernah berhenti ucapkan sepatah jejak dalam bisu:
“kau mampu berdiri, saat semua orang di sekitarmu berkata ‘aku lelah’”
Entah tentang hidup konyol penuh lawakan, atau hidup tenang penuh kewibawaan
Semuanya, tanpa terkecuali akan kembali dalam satu banjar pengertian
Meski aromaku adalah aroma penghilang rasa sakit, bukan berarti langkahku tak gontai
Sesekali nafasku tersengal dalam sepi, sepintas waktu hatiku terberai menjadi abu
Terbang, menari di atas jemari layaknya serpihan kremasi
Tapi toh aku hidup
Hidup dengan nada nada hangat yang melingkar seindah komidi putar
Meski namaku adalah apa yang tersembunyi dalam hitungan kalkulus, bukan berarti nilaiku pasti
Terkadang emosiku membaur dengan bahasa pemrograman, terkadang senyumanku menghilang dalam rautan pensil sang arsitek
Mengabur, menghalau hentakan kaki pelari maraton
Tapi toh namaku terukir
Terukir dalam sejarah kedua acungan jempolmu
Aku yang berbicara di depan podium
Mengajukan orasi tentang makanan basi yang telah kadaluarsa bernama cinta
Tentang secangkir moccachinomint hangat yang di aduk tanpa pemais buatan
Menyerbu panel otak yang menghirupnya
Menyerbu otakmu
Dan malam ini berakhir
Padahal belum sedetikpun aku terbangun, apalagi tertidur
Efisiensi mataku terjaga karena duniaku tengah terlelap
Duniaku, setitik kapas putih yang baru kemarin lepas dari pohonnya
Duniaku, yang tak pernah berhenti ucapkan sepatah jejak dalam bisu:
“kau mampu berdiri, saat semua orang di sekitarmu berkata ‘aku lelah’”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar